Pendidikan Jarak Jauh, Selain UT Pun Boleh

Demi meningkatkan Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APK-PT), pemerintah melakukan terobosan baru dengan diperbolehkannya perguruan tinggi selain Universitas Terbuka – dengan kriteria dan persyaratan tertentu – untuk menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi.
Menurut Permendikbud tersebut, PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajaraannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi, dan media lain. Fungsinya adalah sebagai bentuk pendidikan bagi peserta didik yang tidak dapat mengikuti pendidikan tatap muka tanpa mengurangi kualitas pendidikan. PJJ bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan akses terhadap pendidikan yang bermutu dan relevan sesuai kebutuhan.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang masuk ke perguruan tinggi, APK-PT bisa meningkat. Menurut BPS, APK-PT adalah perbandingan antara mahasiswa perguruan tinggi dengan penduduk berusia 19-24 tahun, dinyatakan dalam persentase. Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, pada tahun 2010, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia mencapai 21,6%. Angka tersebut masih jauh dari pencapaian target nasional, yaitu 30% pada tahun 2015. Apalagi menurut “The Global Competitiveness Report 2011-2012” yang dirilis oleh World-Economic Forum, persentase Tertiary Education Enrollment – salah satu indikator yang mirip dengan APK-PT  – hanya menempati Indonesia pada posisi ke- 87 dari 147 negara.
Belajar tidak hanya sebatas di ruang kelas atau seminar saja
Dengan PJJ, pendidikan memang bisa tidak terbatas ruang dan waktu. Idealnya, siapa saja bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Namun dalam prakteknya, PJJ tidak hanya sekedar mengirimkan bahan belajar ke alamat peserta didik, atau sekedar berkomunikasi melalui teknologi informasi dan komunikasi. Aspek pedagogik, atau pencapaian kemampuan kognitif, afektif, atau psikomotorik tidak mudah difasilitasi dengan PJJ yang diselenggarakan secara asal-asalan, atau sekedar mengikuti trend. Untuk itulah pemerintah berupaya membuat regulasi ketat, walau di sisi lain, memberikan kemudahan bagi Perguruan Tinggi yang dianggap mampu.
Menurut Permendikbud nomor 24 tahun 2012, PJJ dapat diselenggarakan pada lingkup program studi atau mata kuliah. PJJ dalam program studi diselenggarakan dalam proses pembelajaran pada 50% atau lebih mata kuliah dalam satu program studi, sedangkan PJJ dalam mata kuliah diselenggarakan di semua proses pembelajaran dalam satu mata kuliah. Izin penyelenggaraan PJJ untuk program studi dapat diberikan apabila:
  1. Mempunyai izin penyelenggaraan program studi secara tatap muka dalam bidang studi yang sama
  2. Telah diakreditasi oleh lembaga akreditasi yang diakui pemerintah dengan nilai paling rendah B, dan
  3. Jumlah mata kuliah yang diselenggarakan secara PJJ berjumlah lebih atau sama dengan 50% dari jumlah semua mata kuliah dalam satu program studi yang dilaksanakan dengan tatap muka secara penuh

Jadi, tidak setiap PT bisa menyelenggarakan PJJ. Pemerintah menetapkan bahwa program pendidikan jarak jauh yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi harus memenuhi persyaratan yang relatif ketat, mulai dari ketersediaan sumber daya manusia dan sumber daya teknologi, sampai ijin penyelenggaraan program studi secara tatap muka dalam bidang studi yang sama yang telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN – PT) dengan minimal nilai B, serta Bekerjasama dengan lembaga, PT, institusi, dunia industri, atau pihak lain untuk bidang akademik atau non akademik di dalam dan luar negeri untuk memfasilitasi peningkatan kualitas pendidikan.

Perguruan Tinggi Asing pun bisa dilibatkan dalam pendidikan jarak jauh
Menurut Dirjen DIKTI, yang tertuang dalam “Panduan Penyelenggaraan Model Pembelajaran Jarak Jauh di Perguruan Tinggi“, untuk menjamin kualitas, secara intrinsik, penyelenggaraan program PJJ diharapkan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Didasarkan pada kegiatan perencanaan yang sistemik berkenaan dengan kurikulum, materi ajar, proses pembelajaran, instrumen dan sistem evaluasi,
  2. Berbasis TIK,
  3. Memanfaatkan sistem penyampaian pembelajaran yang inovatif dan kreatif,
  4. Menyelenggarakan proses pembelajaran interaktif berbasis TIK dengan memungkinkan kesempatan tatap muka,
  5. Mengembangkan dan membina tingkat kemandirian dan softskills peserta didik,
  6. Menyediakan layanan pendukung yang berkualitas (administrasi akademik, bantuan belajar peserta didik, unit sumber belajar untuk layanan administrasi dan peserta didik, akses dan infrastruktur).
PJJ sebenarnya tergolong konsep lama di Indonesia yaitu dengan keberadaan Universitas Terbuka. Pada saat pertama kali diresmikan pada 4 September 1984, proses pembelajarannya menggunakan berbagai modul atau diktat yang dikirim via pos untuk dipelajari secara mandiri oleh para mahasiswanya. Andaikan ada tatap muka, pembelajarannya berupa tutorial sewaktu-waktu atau layanan adminitrasi yang diselenggarakan di setiap kantor Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) yang tersebar di daerah. Kini proses pendidikannya makin sarat dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi.
Pertanyaannya adalah apakah perguruan tinggi akhirnya menyerupai Universitas Terbuka? Dari aspek teknis, PJJ mungkin bisa sama antara perguruan tinggi yang satu dengan yang lain. Memang ada perbedaan dari sisi prasyarat kelembagaannya, yaitu dilihat dari modus pembelajarannya.  Dalam permendibud beserta pedoman dari DIKTI, dikenal istilah modus penyelenggaraan PJJ yaitu cara penyelenggaraan PJJ yang terdiri dari tiga modus.
Pertama, Modus Tunggal yaitu berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya dengan moda jarak jauh. Semua proses pembelajaran di semua mata kuliah dan semua program pendidikan diselenggarakan hanya dengan modus jarak jauh. Modus ini hanya diperuntukkan bagi Universitas Terbuka.
Kedua, Modus Ganda yaitu berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Proses pembelajaran diselenggarakan baik secara tatap muka dan atau dengan modus jarak jauh. Modus ganda ini seringkali dikenal dengan nama “dual mode”, yaitu (a) Modus Ganda Paralel: satu program pendidikan secara utuh ditransformasikan ke dalam penyelenggaraan modus jarak jauh, sementara penyelenggaraan program pendidikan secara tatap muka masih tetap diselenggarakan oleh PT pada saat bersamaan, dan (b) Modus Ganda Kombinasi: satu program pendidikan mentransformasikan beberapa mata kuliahnya ke dalam penyelenggaraan modus jarak jauh, sementara mata kuliah lain masih tetap diselenggarakan melalui modus tatap muka.
Ketiga, Modus Konsorsium yaitu berbentuk jejaring kerjasama penyelenggaraan pendidikan jarak jauh lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. Penyelenggaraan program pendidikan jarak jauh secara bersama oleh beberapa perguruan tinggi untuk program studi/mata kuliah yang sama, sehingga terjadi pengakuan kredit oleh beberapa perguruan tinggi secara bersama, dan memungkinkan alih kredit.
UT atau selain UT yang hanya boleh menyelenggarakan modus ganda dan modus konsorsium, kini PJJ makin intensif menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Itupun tidak hanya sebatas pengiriman dan pendistribusian bahan ajar saja, atau sekedar membuat versi elektronik dari diktat atau presentasi kuliah yang dibuat oleh dosen. TIK diterapkan pada semua kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang mencakup penyusunan, penggandaan dan distribusi/pengunggahan materi ajar, proses pembelajaran melalui kegiatan tutorial, praktik, praktikum, dan ujian (atau e-learning); dan administrasi serta registrasi tanpa mengesampingkan pembelajaran dan pelayanan tatap muka dikenal dengan nama sistem pembelajaran terpadu (hybrid/blended learning).
Jelas sudah bahwa penyelenggaraan PJJ tidaklah mudah. Penyelenggaraan program PJJ pun harus sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) – seperti dijelaskan dalam pedoman dari Ditjen DIKTI, yaitu mengutamakan hal berikut:
  1. Penggunaan berbagai media komunikasi, antara lain media cetak, elektronik, dan bentukbentuk media komunikasi lain yang dimungkinkan oleh perkembangan teknologi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka dengan interaksi pembelajaran berbasis TIK, meskipun tetap memungkinkan adanya pembelajaran tatap muka secara terbatas;
  2. Penggunaan sistem penyampaian pembelajaran yang peserta didik dengan pendidiknya terpisah;
  3. Penggunaan metode pembelajaran interaktif berdasarkan konsep belajar mandiri, terstruktur, dan terbimbing yang menggunakan berbagai sumber belajar dan dengan dukungan bantuan belajar serta fasilitas pembelajaran;
  4. Menjadikan media pembelajaran sebagai sumber belajar yang lebih dominan daripada pendidik.
Semoga nanti para penyelenggara PJJ bisa menyandingkan kuantitas dengan kualitas lulusan. Peningkatan APK-PT sebaiknya dijadikan target antara saja. Sasaran akhirnya adalah peningkatan kualitas SDM Indonesia yang dapat berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dan ikut serta mendongkrak daya saing nasional di tingkat international.

Mengenal Pendidikan Jarak Jauh

siswaPendidikan di luar kampus atau jarak jauh saat ini banyak tersedia dan memberikan kesempatan yang fleksibel untuk menggabungkan studi dengan komitmen kerja dan gaya hidup.

Pendidikan di luar kampus atau jarak jauh adalah ketika Anda belajar di luar kampus dan mengambil kuliah yang sama persis dengan mahasiswa di dalam kampus. Anda juga menerima materi studi dan sumber daya online interaktif yang sama.

Pendidikan jarak jauh saat ini banyak tersedia dan memberikan kesempatan yang fleksibel untuk menggabungkan studi dengan komitmen kerja dan gaya hidup.

Sejumlah universitas, college, TAFE dan beberapa institusi swasta menyediakan pendidikan jarak jauh, baik untuk keseluruhan kuliah atau hanya untuk mata kuliah tertentu. Setiap program studi berbeda jadi pastikan Anda berbicara dengan penasihat kuliah.

Sumber daya dan dukungan

Mahasiswa di luar kampus mungkin memiliki akses ke:

  • layanan perpustakaan (akses jarak jauh)
  • sumber daya studi interaktif
  • layanan dukungan mahasiswa
  • lokakarya studi online untuk memberikan panduan tentang penilaian dan mempersiapkan ujian
  • pertemuan lewat telepon, eLive atau konferensi video dengan staf pengajar
  • konseling karier dan alat karier

Kunjungi situs berikut ini untuk informasi selengkapnya tentang pilihan pendidikan jarak jauh:

Sumber: http://www.studymelbourne.vic.gov.au

Kuliah Online Vs Kuliah Reguler

indexHC Indonesia Editor
 
Seiiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan hidup yang semakin meningkat, sudah banyak universitas baik di luar negeri maupun di dalam negeri yang menawarkan opsi kuliah online.

Apa itu kuliah online?

Kuliah online adalah kuliah tanpa harus menghadiri kelas di kampus, tetapi tetap bisa menikmati fasilitas universitas dan mendapatkan gelar yang sama dengan mahasiswa reguler. Kuliah biasanya disampaikan via teleconference, materi pelajaran disediakan secara online, dan juga terdapat forum dimana mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan kepada dosen, dan saling berdiskusi antara satu mahasiswa yang satu dan lainnya.

Apa perbedaan dan persamaan perkuliahan online dengan perkuliahan reguler?

Mengenal lokasi

Setelah mendaftar untuk kuliah online, mahasiswa akan diberikan akun untuk log in di situs, di mana mahasiswa dapat mengakses materi pelajaran (bisa berupa artikel, atau bacaan elektronik, bahkan video atau rekaman audio kuliah yang disampaikan dosen), mengakses forum tanya jawab dan diskusi antara mahasiswa dan dosen, atau sesama mahasiswa.

Jika di kampus, kamu harus mengenal bangunan mana saja untuk menghadiri kelas kuliah atau tutorial, lab komputer dan perpustakaan dan fasilitas penting lainnya, di kuliah online, kamu harus mengenal di bagian mana kamu bisa log-in, mendapatkan materi pelajaran, berhubungan dengan dosen dan rekan-rekan mahasiswa, serta mengakses fasilitas secara online (misalnya perpustakaan online).

Sama halnya seperti kuliah reguler, kuliah online juga ada masa orientasinya, dimana mahasiswa akan dikenalkan dengan dosen, staf pendukung dan fasilitas yang bisa diakses untuk dapat menyelesaikan kuliah dengan baik. Hanya saja bedanya, semua dilakukan secara virtual.

Fleksibilitas

Kuliah ke luar negeri berarti kamu harus meninggalkan negara asal beserta semua aktifitas kamu disana. Dengan kuliah online, asal bisa mengatur waktu dengan baik, kamu tetap bisa kuliah tanpa harus meninggalkan aktifitas dan kebiasaan kamu. Jika kamu berkendala untuk meninggalkan kampung halaman tetapi ingin mendapatkan gelar dari universitas luar negeri, ini adalah opsi yang sangat bagus.

Biaya

Biaya kuliah online bisa 40% lebih murah (atau lebih) jika dibandingkan dengan perkuliahan reguler. Biaya kuliah bisa lebih rendah karena fasilitas yang dinikmati tentu saja lebih terbatas jika dibandingkan dengan kuliah di kampus. Selain menghemat biaya kuliah, juga bisa menghemat biaya hidup, karena kuliah online hanya perlu komputer dan koneksi internet.

Kurikulum dan Modul

Tidak terdapat banyak perbedaan dari kurikulum dan modul kuliah online dengan kuliah di kampus. Hanya saja biasanya ada beberapa hal yang disesuaikan untuk perkuliah online.

Sosialisasi

Jika di kampus kamu bisa hang out dan ngobrol dengan teman, di kuliah online mahasiswa hanya bisa bersosialisasi via forum.

Kemandirian dalam belajar

Di kuliah reguler, mahasiswa menghadiri kelas kuliah dimana dosen menyampaikan pelajaran, kemudian menghadiri kelas tutorial, dimana dosen atau tutor dapat berinteraksi lebih dekat via tanya jawab, diskusi atau debat kelompok.

Mahasiswa kuliah online harus membaca textbook terlebih dahulu sebelum mengikuti kelas online. Mahasiswa juga harus membuat jadwal sendiri, dan bisa memotivasi sendiri agar bisa menyelesaikan waktu sesuai yang dijadwalkan.

Penilaian

Seperti halnya kuliah reguler, kuliah online juga perlu mengerjakan tugas dan ujian. Mahasiswa akan dinilai tugasnya. Jika kelas reguler menilai kehadiran dan partisipasi dalam kelas, kelas online juga menilai partisipasi mahasiswa dalam forum diskusi.

Tertarik dengan kuliah Online? Segera daftar di sini

Kuliah Jarak Jauh yang Murah dan Efektif

4527144772_4017ece435_o-630x417SAAT terjadi gonjang-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, biayanya sangat mahal, dan kedua, ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal, dan kini lebih setuju lagi.

Pada 5 Maret lalu, saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama karena saya pernah memberi kuliah dengan metode serupa untuk mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, saat berada di Australia dan Amerika Serikat. Kali ini saya berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi berlangung sangat baik sehingga jarak yang mencapai 5.000 km dan empat jam perbedaan waktu itu tidak terasa. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apa pun. Sara rasa ini bisa jadi salah satu bentuk kontribusi kecil mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Adalah Dr. Imam Baihaqi, kawan baik saya yang merupakan dosen di Teknik Industri ITS, yang mengusulkan kuliah online ini. Kami berteman sejak 2003 ketika sama-sama mengikuti pendidikan Bahasa Inggris (English for Academic Purposes) di Jakarta, saat kami siap-siap berangkat ke Australia untuk pendidikan lanjut dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Persahabatan yang baik memang bisa jadi cikal bakal kolaborasi profesional yang tidak terduga manfaatnya.

Kuliah online itu menggunakan dua perangkat komunikasi yaitu Skype yang sudah sangat umum dan Team Viewer, sebuah perangkat mirip skype yang memiliki fasilitas “meeting”. Menariknya, kedua perangkat ini gratis segratis-gratisnya. Meski demikian, keduanya juga memiliki versi berbayar untuk keperluan yang lebih kompleks. Yang jelas, untuk kepentingan kuliah umum tersebut, versi gratis sudah lebih dari cukup.

Sebelum kuliah online saya mengunduh Team Viewer dari websitenya, http://www.teamviewer.com, dan menginstallnya di laptop. Semuanya dilakukan sangat mudah, hanya dalam hitungan menit. Setelah terinstall, Team Viewer bisa dijalankan dengan tampilan seperti Gambar 1 (kiri).

Untuk memulai menggunakannya, saya harus memilih tab “Meeting” lalu mengklik tombol “Start instant meeting” sehingga muncul jendela baru seperti Gambar 1 (kanan). Dengan ini, artinya saya sedang merancang sebuah pertemuan dan saya menjadi “tuan rumah” atau host dari pertemuan tersebut. Di jendela yang baru ini juga akan muncul “Meeting ID” yaitu sebuah identitas unik yang akan digunakan oleh pihak lain jika ingin bergabung dengan “meeting” yang saya rencanakan. Dalam contoh ini, “Meeting ID” saya adalah m47-628-783.

Dalam kuliah online tersebut, Pak Imam juga sudah siap dengan sebuah komputer di kelasnya di ITS Surabaya yang terhubung ke internet. Dalam hal ini, mengikuti kuliah online pada dasarnya adalah mengikuti (join) meeting yang sudah saya rancang dengan menjalankan Team Viewer. Dengan demikian, Pak Imam di Surabaya cukup memasukkan “Meeting ID” yaitu m47-628-783 di jendela Team Viewer (lihat Gambar 1-kiri) lalu mengklik “Join meeting”. Alternatifnya, Pak Imam tidak harus menginstall Team Viewer, cukup dengan browser yang memiliki flash add on. Disarankan menggunakan Google Chrome atau Mozila FireFox. Dengan browser ini, “join meeting” bisa dilakukan dengan mengunjungi http://go.teamviewer.com/ dan memasukkan “Meeting ID” seperti pada tampilan Gambar 2.

Sesaat setelah itu, saya akan melihat di jendela meeting saya ada koneksi dari 1 pengguna yang artinya ada satu pihak yang sedang mengikuti meeting saya. Saya harus memastikan bahwa “screen sharing” sudah diaktifkan (lihat “screen sharing” pada Gambar 1-kanan) sehingga Pak Imam, atau siapa pun yang mengikuti meeting saya, bisa melihat layar komputer saya melalui komputernya. “Peserta” meeting ini bisa lebih dari satu di lokasi berbeda dengan memasukkan Meeting ID seperti penjelasan sebelumnya. Artinya, memungkinkan bagi saya untuk memberi kuliah dari Wollongong dengan beberapa kelompok peserta di Surabaya, Yogyakarta, Amerika atau tempat lain. Selain itu, partisipasi juga bisa dilakukan dengan mobil device lain seperti iPhone dan iPad. Saya belum pernah mencoba menggunakan merek lain, tetapi saya yakin perangkat berbasis Android juga memiliki kemampuan menggunakan Team Viewer.

Mulai saat ini, layar komputer saya sudah ‘terkloning’ pada komputer Pak Imam di Surabaya. Karena komputer di Surabaya terhubung ke LCD proyektor maka apa yang Nampak di layar komputer saya, nampak juga di sebuah layar besar di depan kelas. Jika saya menampilkan bahan kuliah berupa presentasi Power Point maka yang nampak di Surabaya adalah presentasi yang sama. Inilah inti dari kuliah online itu. Saya menjalankan presentasi di laptop saya di Wollongong dan mahasiswa melihat hal yang sama di Surabaya melalui layar besar di depan kelas seperti pada Gambar 3.

Bagaimana dengan suara? Meskipun Team Viewer memiliki fasilias transfer suara yang bernama “Voice over IP”, kami memilih untuk menggunakan perangkat lain yaitu Skype. Hal ini dilakukan untuk memastikan kualias gambar presentasi dan suara sama-sama bagus karena ditangani secara terpisah menggunakan perangkat yang berbeda. Konsekuensinya, saya dan Pak Imam masing-masing harus memiliki dua komputer yaitu satu komputer untuk interaksi Team Viewer (untuk gambar hasil kloning layar komputer saya) dan satu komputer lagi untuk interaksi dengan Skype (suara dan video). Misalnya di Surabaya ada dua komputer A dan B maka komputer A adalah untuk interaksi dengan Team Viewer yang terkoneksi ke LCD proyektor dan komputer B adalah untuk interaksi menggunakan Skype dengan volume speaker yang dibesarkan agar suaranya terdengar oleh semua peserta kuliah. Selain untuk suara, koneksi Skype juga digunakan untuk mentransfer video. Dengan demikian, saya bisa melihat suasana di kelas dengan leluasa dan peserta kuliah bisa mendengar sekaligus melihat saya karena komputer B juga terhubung ke LCD proyektor. Hal ini bermanfaat secara psikologis mengingat saya merasa benar-benar mengajar secara langsung karena bisa melihat reaksi peserta. Ini berarti bahwa kamera pada komputer B mengarah ke ruang kelas.

Sementara itu saya di Wollongong menghadapi dua komputer yang saling berdekatan, sebut saja komputer 1 dan 2. Komputer 1 adalah host Team Viewer untuk menjalankan presentasi saya (terhubung dengan komputer A di Surabaya) dan komputer 2 untuk koneksi Skype yang mentransfer suara dan video saya ke Komputer B di Surabaya. Saya menggunakan iPad sebagai komputer 2 dan bisa mengamati suasana di Surabaya seperti yang nampak pada Gambar 4.

Dengan pengaturan seperti ini, pengalaman memberi kuliah benar-benar seperti live, sangat mengesankan dan interaktif. Saya bisa berkelakar dan mahasiswa merespon dengan baik. Saya juga bisa melihat ekspresi mereka. Pengalaman kuliah 5 Maret lalu sangatlah baik, saya melihat wajah-wajah antusias. Saya yakin, kuliah online ini juga menjadi sesuatu yang baru bagi kebanyakan peserta. Tentu menjadi pengalaman yang baru melihat seorang dosen muncul di layar seperti pada Gambar 5.

Harus diakui ada jeda dalam transisi animasi atau dari satu lembar tayang ke lembar tayang berikutnya tetapi itu sama sekali tidak mengganggu jalannya kuliah. Pemberi dan peserta kuliah memang perlu sedikit lebih sabar karena transisi antarlembar tayang bisa berlangsung lima hingga tujuh detik. Jika sudah diantisipasi, hal ini tidak menimbulkan masalah sama sekali.

Selain kuliah monolog, interaksi tanya jawab juga berlangsung sangat lancar. Rupanya Pak Imam menggunakan komputer dengan microphone yang cukup sensitive sehingga peserta cukup berada di deretan bangku terdepan dan saya sudah bisa mendengar suara mereka. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta kuliah dapat saya dengar dan tanggapi dengan baik. Selain itu, saya juga mengawali kuliah dengan menyebut akun twitter saya dan meminta peserta untuk bertanya lewat twitter dengan metode mention saat kuliah berlangsung. Dengan demikian, saya bisa melihat pertanyaan melalui twitter untuk dibahas saat diskusi. Hal ini juga untuk membantu mereka yang masih kesulitan dalam berekspresi secara verbal di depan umum. Dalam kuliah itu, saya menerima beberapa pertanyaan lewat twitter.

Harus diakui, pengalaman memberi kuliah online ini sangat berkesan bagi saya. Tidak saja saya telah berkesempatan berbagi, saya juga belajar banyak dan terinspirasi untuk menerapkan metode ini secara berkala. Kalau banyak orang yang mengatakan anggota DPR tidak perlu studi banding dan teknologi informasi sudah bisa menggantikannya, maka istilah dosen terbang mungkin juga perlu ditinjau lagi. Rupanya perlu adanya revisi terhadap pemahaman bahwa jarak bisa menjadi tirani seperti yang diungkapkan Geoffrey Blainey dalam bukunya The Tyranny of Distance. Dengan adanya teknologi informasi yang semakin terjangkau, distance does not matter. Bahwa jarak yang jauh sudah tidak layak lagi mendikte sebuah interaksi.

Berita kiriman:
I Made Andi Arsana
Dosen Teknik Geodesi UGM,
Kandidat doktor di University of Wollongong
(//rfa)

kampus.okezone.com

Kerennya Sekolah Rumah

oc_470x281pxSekolah rumah itu tak memiliki bentuk tunggal. Latar belakang orangtua beragam, keyakinan dan nilai-nilainya beragam, alasan memilih sekolah rumah beragam, demikian pun anak-anak sekolah rumah beragam.

Ada yang konservatif, ada yang liberal. Ada yang fundamentalis, ada yang hippies. Ada yang scholar, ada yang seniman. Ada yang scientist, ada yang artis.

Yang pasti, sekolah rumah memberikan kesempatan untuk tumbuhnya setiap potensi secara maksimal. Sebab, yang dipelajari dan dilakukan anak tak diseragamkan; tetapi sesuai model sekolah rumah yang dipilih, menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki anak dan kondisi keluarga.

 

Berikut ini beberapa tokoh masa kini yang tumbuh dalam pendidikan sekolah rumah dengan beragam warna.

 

  1. Julian Assange, Pendiri Situs Wikileaks

julian-assangeJulian Assange adalah tokoh yang sedang mendapat sorotan di dunia karena telah membocorkan dokumen-dokumen rahasia pemerintah dan militer Amerika Serikat melalui situs Wikileaks yang didirikannya. Dia adalah sosok seorang yang memberontak terhadap sistem politik korup yang sedang menguasai dunia saat ini. Akibatnya, dia dikejar oleh pemerintah Amerika Serikat yang ingin menangkapnya.

Julian Assange menjalani sekolah rumah selama beberapa tahun sambil melakukan perjalanan bersama orangtuanya yang memiliki perusahaan teater keliling. Saat dewasa, dia terus menjalani hidup berpindah-pindah; dan itu sesuai dengan kondisinya saat ini yang menjadi target pembunuhan dan pemburuan karena apa yang dilakukannya.

 

  1. Condoleezza Rice, Menteri Luar Negeri

condoleezza-riceCondoleezza Rice adalah wanita berkulit hitam pertama yang menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat. Dia menjadi menteri luar negeri pada saat pemerintahan George W. Bush. Majalah Forbes pernah menobatkannya sebagai “The Most Powerful Woman in the World”. Saat ini dia menjadi pengajar di Stanford Graduate School of Business.

Angelina Rice, ibu dari Condoleezza Rice, berhenti dari pekerjaannya sebagai guru musik di SMA untuk mendidik sekolah rumah buat anak perempuannya itu.

 

  1. Erik Demaine, Profesor Matematika

erik-demaineErik Demaine adalah professor termuda yang pernah dimiliki The Massachusett Institute of Technology (MIT). Dia menjadi dosen pada usia 20 tahun. Dia adalah ahli matematika origami, yang menggunakan model origami untuk memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam berbagai disipling seperti arsitektur, robotik, dan biologi molekular.

Demaine menjalani sekolah rumah sambil melakukan perjalanan keliling Amerika Serikat bersama ayahnya, seorang pandai emas (goldsmith) dan glassblower. Demaine mulai kuliah saat usia 12 tahun, menyelesaikan sarjana pada usia 14 tahun. Selain seorang jenius di bidang matematika dan komputasi, Demaine adalah seorang seniman yang karyanya dipajang di the Museum of Modern Art dan dijadikan sebagai koleksi permanen di museum itu.

Masih ada sosok-sosok homescholing lain yang terus bertumbuhan di berbagai penjuru dunia. Ada The Jonas Brothers (grup musik), Margaret Atwood (penulis), Francis Collins (saintis), Akiane Kramarik (pelukis), dan sebagainya. Anda dapat membacanya selengkapnya di sini: http://www.thebestcolleges.org/2010/the-worlds-15-most-extraordinary-homeschoolers/