Kuliah Jarak Jauh yang Murah dan Efektif

4527144772_4017ece435_o-630x417SAAT terjadi gonjang-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, biayanya sangat mahal, dan kedua, ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal, dan kini lebih setuju lagi.

Pada 5 Maret lalu, saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama karena saya pernah memberi kuliah dengan metode serupa untuk mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, saat berada di Australia dan Amerika Serikat. Kali ini saya berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi berlangung sangat baik sehingga jarak yang mencapai 5.000 km dan empat jam perbedaan waktu itu tidak terasa. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apa pun. Sara rasa ini bisa jadi salah satu bentuk kontribusi kecil mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Adalah Dr. Imam Baihaqi, kawan baik saya yang merupakan dosen di Teknik Industri ITS, yang mengusulkan kuliah online ini. Kami berteman sejak 2003 ketika sama-sama mengikuti pendidikan Bahasa Inggris (English for Academic Purposes) di Jakarta, saat kami siap-siap berangkat ke Australia untuk pendidikan lanjut dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Persahabatan yang baik memang bisa jadi cikal bakal kolaborasi profesional yang tidak terduga manfaatnya.

Kuliah online itu menggunakan dua perangkat komunikasi yaitu Skype yang sudah sangat umum dan Team Viewer, sebuah perangkat mirip skype yang memiliki fasilitas “meeting”. Menariknya, kedua perangkat ini gratis segratis-gratisnya. Meski demikian, keduanya juga memiliki versi berbayar untuk keperluan yang lebih kompleks. Yang jelas, untuk kepentingan kuliah umum tersebut, versi gratis sudah lebih dari cukup.

Sebelum kuliah online saya mengunduh Team Viewer dari websitenya, http://www.teamviewer.com, dan menginstallnya di laptop. Semuanya dilakukan sangat mudah, hanya dalam hitungan menit. Setelah terinstall, Team Viewer bisa dijalankan dengan tampilan seperti Gambar 1 (kiri).

Untuk memulai menggunakannya, saya harus memilih tab “Meeting” lalu mengklik tombol “Start instant meeting” sehingga muncul jendela baru seperti Gambar 1 (kanan). Dengan ini, artinya saya sedang merancang sebuah pertemuan dan saya menjadi “tuan rumah” atau host dari pertemuan tersebut. Di jendela yang baru ini juga akan muncul “Meeting ID” yaitu sebuah identitas unik yang akan digunakan oleh pihak lain jika ingin bergabung dengan “meeting” yang saya rencanakan. Dalam contoh ini, “Meeting ID” saya adalah m47-628-783.

Dalam kuliah online tersebut, Pak Imam juga sudah siap dengan sebuah komputer di kelasnya di ITS Surabaya yang terhubung ke internet. Dalam hal ini, mengikuti kuliah online pada dasarnya adalah mengikuti (join) meeting yang sudah saya rancang dengan menjalankan Team Viewer. Dengan demikian, Pak Imam di Surabaya cukup memasukkan “Meeting ID” yaitu m47-628-783 di jendela Team Viewer (lihat Gambar 1-kiri) lalu mengklik “Join meeting”. Alternatifnya, Pak Imam tidak harus menginstall Team Viewer, cukup dengan browser yang memiliki flash add on. Disarankan menggunakan Google Chrome atau Mozila FireFox. Dengan browser ini, “join meeting” bisa dilakukan dengan mengunjungi http://go.teamviewer.com/ dan memasukkan “Meeting ID” seperti pada tampilan Gambar 2.

Sesaat setelah itu, saya akan melihat di jendela meeting saya ada koneksi dari 1 pengguna yang artinya ada satu pihak yang sedang mengikuti meeting saya. Saya harus memastikan bahwa “screen sharing” sudah diaktifkan (lihat “screen sharing” pada Gambar 1-kanan) sehingga Pak Imam, atau siapa pun yang mengikuti meeting saya, bisa melihat layar komputer saya melalui komputernya. “Peserta” meeting ini bisa lebih dari satu di lokasi berbeda dengan memasukkan Meeting ID seperti penjelasan sebelumnya. Artinya, memungkinkan bagi saya untuk memberi kuliah dari Wollongong dengan beberapa kelompok peserta di Surabaya, Yogyakarta, Amerika atau tempat lain. Selain itu, partisipasi juga bisa dilakukan dengan mobil device lain seperti iPhone dan iPad. Saya belum pernah mencoba menggunakan merek lain, tetapi saya yakin perangkat berbasis Android juga memiliki kemampuan menggunakan Team Viewer.

Mulai saat ini, layar komputer saya sudah ‘terkloning’ pada komputer Pak Imam di Surabaya. Karena komputer di Surabaya terhubung ke LCD proyektor maka apa yang Nampak di layar komputer saya, nampak juga di sebuah layar besar di depan kelas. Jika saya menampilkan bahan kuliah berupa presentasi Power Point maka yang nampak di Surabaya adalah presentasi yang sama. Inilah inti dari kuliah online itu. Saya menjalankan presentasi di laptop saya di Wollongong dan mahasiswa melihat hal yang sama di Surabaya melalui layar besar di depan kelas seperti pada Gambar 3.

Bagaimana dengan suara? Meskipun Team Viewer memiliki fasilias transfer suara yang bernama “Voice over IP”, kami memilih untuk menggunakan perangkat lain yaitu Skype. Hal ini dilakukan untuk memastikan kualias gambar presentasi dan suara sama-sama bagus karena ditangani secara terpisah menggunakan perangkat yang berbeda. Konsekuensinya, saya dan Pak Imam masing-masing harus memiliki dua komputer yaitu satu komputer untuk interaksi Team Viewer (untuk gambar hasil kloning layar komputer saya) dan satu komputer lagi untuk interaksi dengan Skype (suara dan video). Misalnya di Surabaya ada dua komputer A dan B maka komputer A adalah untuk interaksi dengan Team Viewer yang terkoneksi ke LCD proyektor dan komputer B adalah untuk interaksi menggunakan Skype dengan volume speaker yang dibesarkan agar suaranya terdengar oleh semua peserta kuliah. Selain untuk suara, koneksi Skype juga digunakan untuk mentransfer video. Dengan demikian, saya bisa melihat suasana di kelas dengan leluasa dan peserta kuliah bisa mendengar sekaligus melihat saya karena komputer B juga terhubung ke LCD proyektor. Hal ini bermanfaat secara psikologis mengingat saya merasa benar-benar mengajar secara langsung karena bisa melihat reaksi peserta. Ini berarti bahwa kamera pada komputer B mengarah ke ruang kelas.

Sementara itu saya di Wollongong menghadapi dua komputer yang saling berdekatan, sebut saja komputer 1 dan 2. Komputer 1 adalah host Team Viewer untuk menjalankan presentasi saya (terhubung dengan komputer A di Surabaya) dan komputer 2 untuk koneksi Skype yang mentransfer suara dan video saya ke Komputer B di Surabaya. Saya menggunakan iPad sebagai komputer 2 dan bisa mengamati suasana di Surabaya seperti yang nampak pada Gambar 4.

Dengan pengaturan seperti ini, pengalaman memberi kuliah benar-benar seperti live, sangat mengesankan dan interaktif. Saya bisa berkelakar dan mahasiswa merespon dengan baik. Saya juga bisa melihat ekspresi mereka. Pengalaman kuliah 5 Maret lalu sangatlah baik, saya melihat wajah-wajah antusias. Saya yakin, kuliah online ini juga menjadi sesuatu yang baru bagi kebanyakan peserta. Tentu menjadi pengalaman yang baru melihat seorang dosen muncul di layar seperti pada Gambar 5.

Harus diakui ada jeda dalam transisi animasi atau dari satu lembar tayang ke lembar tayang berikutnya tetapi itu sama sekali tidak mengganggu jalannya kuliah. Pemberi dan peserta kuliah memang perlu sedikit lebih sabar karena transisi antarlembar tayang bisa berlangsung lima hingga tujuh detik. Jika sudah diantisipasi, hal ini tidak menimbulkan masalah sama sekali.

Selain kuliah monolog, interaksi tanya jawab juga berlangsung sangat lancar. Rupanya Pak Imam menggunakan komputer dengan microphone yang cukup sensitive sehingga peserta cukup berada di deretan bangku terdepan dan saya sudah bisa mendengar suara mereka. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta kuliah dapat saya dengar dan tanggapi dengan baik. Selain itu, saya juga mengawali kuliah dengan menyebut akun twitter saya dan meminta peserta untuk bertanya lewat twitter dengan metode mention saat kuliah berlangsung. Dengan demikian, saya bisa melihat pertanyaan melalui twitter untuk dibahas saat diskusi. Hal ini juga untuk membantu mereka yang masih kesulitan dalam berekspresi secara verbal di depan umum. Dalam kuliah itu, saya menerima beberapa pertanyaan lewat twitter.

Harus diakui, pengalaman memberi kuliah online ini sangat berkesan bagi saya. Tidak saja saya telah berkesempatan berbagi, saya juga belajar banyak dan terinspirasi untuk menerapkan metode ini secara berkala. Kalau banyak orang yang mengatakan anggota DPR tidak perlu studi banding dan teknologi informasi sudah bisa menggantikannya, maka istilah dosen terbang mungkin juga perlu ditinjau lagi. Rupanya perlu adanya revisi terhadap pemahaman bahwa jarak bisa menjadi tirani seperti yang diungkapkan Geoffrey Blainey dalam bukunya The Tyranny of Distance. Dengan adanya teknologi informasi yang semakin terjangkau, distance does not matter. Bahwa jarak yang jauh sudah tidak layak lagi mendikte sebuah interaksi.

Berita kiriman:
I Made Andi Arsana
Dosen Teknik Geodesi UGM,
Kandidat doktor di University of Wollongong
(//rfa)

kampus.okezone.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s